Tuesday, October 3, 2017

DISPARITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA

sumber: pinterest.com
sumber: karawangplus.com











Apa yang pertama kali muncul dalam pikiran anda ketika mendengar “pendidikan sekolah Indonesia”?. Apakah ruang kelas? Prestasi? Penelitian? Kenakalan remaja? Bullying?. Terlepas dari bayangan kebanyakan orang manakala mendengar frasa itu, pernah beberapa kali penulis mencoba mengetik keyword “pelajar Indonesia” di google image. Di luar dugaan, rupanya yang ditampilkan ialah warning tentang kenakalan remaja, seperti; tawuran, seks bebas, balap liar, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya. Selain hanya gambar siswa berseragam lengkap yang memegang buku dalam pelukannya, tidak ada hal positif lain yang ditampilkan. Bisa jadi, media luar telah menilai bahwa ada yang tidak beres dengan dunia pendidikan di Indonesia. Kendati begitu, dunia pendidikan kita memang penuh warna. Bagaimana tidak, disamping banyaknya berita tentang tawuran pelajar di Jakarta, demo oleh mahasiswa di hari-hari besar nasional, fenomena putus sekolah, hingga kehamilan yang tidak diinginkan dalam kasus pelajar SMA, ternyata ada kesenjangan (disparitas) yang amat nyata di dalam masyarakat kita.
Secara umum, disparitas bisa diartikan sebagai jarak atau pembeda. Lalu apa yang dimaksud disparitas pendidikan, ialah jarak atau perberdaan atau kesenjangan dalam dunia pendidikan. Sementara kesenjangan itu sendiri, dalam pengertian ilmu sosial, merupakan ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dengan apa yang senyatanya terjadi. Jadi, kesenjangan tidak bisa hanya dimaknai sebagai gap atau jurang pemisah. Ilustraisnya begini; sebagaimana ditulis Seftiawan dalam pikiran-rakyat.com (edisi 10 desember 2016), Indonesia meraih 5 medali emas Olimpiade Sains Junior Internasional (IJSO) ke-13 tahun 2016, Indriani melalui antaranews.com (edisi 21 Agustus 2016) juga menuliskan pelajar Indonesia meraih juara dalam ajang kompetisi matematika internasional Thailand International Mathematics Competition (TIMC) 2016 di Chiang Mai, Thailand. Namun dibalik prestasi-prestasi gemilang para pelajar tersebut, pernahkan kita menengok masyarakat marginal yang bisa sekolah sampai jenjang SMP saja bangganya minta ampun. Pernahkah kita membayangkan, bagaimana jika kita yang sekarang bisa membaca artikel ini, memperoleh akses internet, dan bisa membuka media sosial berada di posisi mereka yang untuk membeli satu buku tulis saja harus menabung beberapa minggu?.
Apa yang banyak diberitakan media tentang prestasi-prestasi pelajar Indonesia dalam ajang-ajang persaingan akademis tentu saja tidak bisa menjadi proyeksi pendidikan di Indonesia. Pemberitaan itu tidak lebih dari sekadar “etalase” pendidikan tempat memamerkan dan menunjukkan kepada publik bahwa Indonesia menyabet juara dalam kompetisi akademis. Lebih-lebih jika dalam suatu kesempatan itu, dibawa-bawa nama sekolah untuk meningkatkan pamor sekolah dan menarik minat wali murid. Padahal dibalik itu semua, terdapat sekolah yang mempunyai siswa dengan keterlambatan pembelajaran. Pengalaman penulis sewaktu menjadi volunteer pengajar di daerah 3T Kabupaten Jember, menemukan fenomena tersebut. Alih-alih mengikuti kompetisi/lomba tingkat kecamatan, untuk membaca, menulis dan berhitung (calistung) saja masih membutuhkan bantuan.
Nah, disinilah tampak ada kesenjangan dalam hal kualitas pendidikan. Bagaimana mungkin di suatu tempat siswa mempunyai prestasi gemilang dan dibanjiri pujian, tapi di tempat lain ada siswa yang tidak bisa calistung dan dibanjiri perasaan iba. Anies Baswedan pernah menyampaikan dalam salah satu pidatonya, ketika masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kabinet kerja, bahwa untuk menyeimbangkan atau mengatasi persoalan semacam ini, bukan menurunkan standar yang diatas, melainkan dengan menaikkan standar yang sedang berada dibawah. Artinya, jangan sampai kualitas pengajaran di sekolah yang sudah bagus mengalami penurunan, justeru sekolah kurang bagus lah yang seharusnya mendapat porsi perhatian lebih banyak. Sebab, kualitas masyarakat 20 hingga 30 tahun yang akan datang, tercermin dari anak-anak yang kini duduk dibangku pendidikan dasar (SD dan SMP).
Pada dasarnya, disparitas adalah suatu hal yang lazim terjadi di dalam negara sedang berkembang. Memang ada banyak variabel yang menentukan disparitas ini, namun yang paling berpengaruh adalah aspirasi pendidikan, dimana aspirasi itu sendiri ditentukan oleh tingkat kesejahteraan ekonomi, faktor sosial-budaya, fasilitas pengajaran, dan supremasi hukum. Jika anda ingin melihat secara nyata, atau bahkan mengalami secara langsung menjadi kaum marginal, berkunjunglah ke daerah 3T. Biasanya, di sana anda akan menemukan masyarakat yang sederhana dalam aspek ekonomi, tidak mempunyai peran penting dalam perpolitikan, tapi istimewa dalam ahlak dan tindak-tanduknya. Pengalaman penulis dalam melakukan pengabdian, menemukan siswa yang sekolah SD tidak bersepatu, kakak-beradik menggunakan satu buku tulis untuk bergantian, dan bahkan mereka ada yang bersekolah sambil berjualan es lilin.
Kondisi yang sungguh sangat miris. Setelah mengamati kesenjangan yang juga terjadi di daerah lain seperti Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo, membuka mata penulis bahwa ternyata Jember tidak sendiri. Begitu lebar jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Bila terus seperti ini, yang akan terjadi adalah masyarakat akan tekotak-kotak, si miskin kesulitan memperoleh akses pendidikan, dan si kaya dengan mudahnya memperoleh pendidikan. Alhasil yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap stagnan. Sebab, pendidikan adalah tiket utama untuk memperoleh kesejahteraan di negeri ini.
Apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi ini? mereka masyarakat, kita juga masyarakat. Mereka manusia begitu pula kita. Jika kita merasa keberatan dengan memberikan materi, mari kita memberikan ide. Anda bisa bergabung dengan berbagai gerakan sosial yang memfokuskan aktivitasnya pada pengabdian masyarakat. Bahkan anda bisa bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar, SM3T, Kelas Inspirasi, dan lain sebagainya. Barangkali, saat kebijakan pemerintah kurang bisa menjamah mereka lantaran beberapa sebab, tampaknya hanya partisipasi dan gagasan saja yang bisa kita suguhkan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Mengkritik pemerintah boleh, menyuarakan pendapat pun bagus sekali. Tapi akan lebih baik, jika kita turun tangan dan ikut ambil bagian demi suatu perubahan.

No comments:

Post a Comment