![]() |
| sumber: pinterest.com |
![]() |
| sumber: karawangplus.com |
Apa yang pertama
kali muncul dalam pikiran anda ketika mendengar “pendidikan sekolah Indonesia”?. Apakah ruang kelas? Prestasi? Penelitian?
Kenakalan remaja? Bullying?. Terlepas
dari bayangan kebanyakan orang manakala mendengar frasa itu, pernah beberapa
kali penulis mencoba mengetik keyword “pelajar Indonesia” di google image. Di luar dugaan, rupanya
yang ditampilkan ialah warning tentang kenakalan remaja, seperti; tawuran, seks
bebas, balap liar, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya. Selain hanya
gambar siswa berseragam lengkap yang memegang buku dalam pelukannya, tidak ada
hal positif lain yang ditampilkan. Bisa jadi, media luar telah menilai bahwa
ada yang tidak beres dengan dunia pendidikan di Indonesia. Kendati begitu, dunia
pendidikan kita memang penuh warna. Bagaimana tidak, disamping banyaknya berita
tentang tawuran pelajar di Jakarta, demo oleh mahasiswa di hari-hari besar
nasional, fenomena putus sekolah, hingga kehamilan yang tidak diinginkan dalam
kasus pelajar SMA, ternyata ada kesenjangan (disparitas) yang amat nyata di dalam
masyarakat kita.
Secara umum, disparitas
bisa diartikan sebagai jarak atau pembeda. Lalu apa yang dimaksud disparitas
pendidikan, ialah jarak atau perberdaan atau kesenjangan dalam dunia
pendidikan. Sementara kesenjangan itu sendiri, dalam pengertian ilmu sosial,
merupakan ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dengan apa yang senyatanya
terjadi. Jadi, kesenjangan tidak bisa hanya dimaknai sebagai gap atau jurang pemisah. Ilustraisnya
begini; sebagaimana ditulis Seftiawan dalam pikiran-rakyat.com (edisi 10
desember 2016), Indonesia meraih 5 medali emas Olimpiade Sains Junior
Internasional (IJSO) ke-13 tahun 2016, Indriani melalui antaranews.com (edisi
21 Agustus 2016) juga menuliskan pelajar Indonesia meraih juara dalam ajang
kompetisi matematika internasional Thailand
International Mathematics Competition (TIMC) 2016 di Chiang Mai, Thailand. Namun
dibalik prestasi-prestasi gemilang para pelajar tersebut, pernahkan kita menengok
masyarakat marginal yang bisa sekolah sampai jenjang SMP saja bangganya minta
ampun. Pernahkah kita membayangkan, bagaimana jika kita yang sekarang bisa
membaca artikel ini, memperoleh akses internet, dan bisa membuka media sosial berada
di posisi mereka yang untuk membeli satu buku tulis saja harus menabung beberapa
minggu?.
Apa yang banyak diberitakan media tentang
prestasi-prestasi pelajar Indonesia dalam ajang-ajang persaingan akademis tentu
saja tidak bisa menjadi proyeksi pendidikan di Indonesia. Pemberitaan itu tidak
lebih dari sekadar “etalase” pendidikan tempat memamerkan dan menunjukkan
kepada publik bahwa Indonesia menyabet juara dalam kompetisi akademis. Lebih-lebih
jika dalam suatu kesempatan itu, dibawa-bawa nama sekolah untuk meningkatkan
pamor sekolah dan menarik minat wali murid. Padahal dibalik itu semua, terdapat
sekolah yang mempunyai siswa dengan keterlambatan pembelajaran. Pengalaman
penulis sewaktu menjadi volunteer pengajar di daerah 3T Kabupaten Jember, menemukan
fenomena tersebut. Alih-alih mengikuti kompetisi/lomba tingkat kecamatan, untuk
membaca, menulis dan berhitung (calistung) saja masih membutuhkan bantuan.
Nah, disinilah tampak ada kesenjangan dalam
hal kualitas pendidikan. Bagaimana mungkin di suatu tempat siswa mempunyai
prestasi gemilang dan dibanjiri pujian, tapi di tempat lain ada siswa yang
tidak bisa calistung dan dibanjiri perasaan iba. Anies Baswedan pernah
menyampaikan dalam salah satu pidatonya, ketika masih menjabat Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan dalam kabinet kerja, bahwa untuk menyeimbangkan atau mengatasi
persoalan semacam ini, bukan menurunkan standar yang diatas, melainkan dengan
menaikkan standar yang sedang berada dibawah. Artinya, jangan sampai kualitas
pengajaran di sekolah yang sudah bagus mengalami penurunan, justeru sekolah
kurang bagus lah yang seharusnya mendapat porsi perhatian lebih banyak. Sebab,
kualitas masyarakat 20 hingga 30 tahun yang akan datang, tercermin dari
anak-anak yang kini duduk dibangku pendidikan dasar (SD dan SMP).
Pada dasarnya, disparitas adalah suatu hal
yang lazim terjadi di dalam negara sedang berkembang. Memang ada banyak
variabel yang menentukan disparitas ini, namun yang paling berpengaruh adalah
aspirasi pendidikan, dimana aspirasi itu sendiri ditentukan oleh tingkat
kesejahteraan ekonomi, faktor sosial-budaya, fasilitas pengajaran, dan
supremasi hukum. Jika anda ingin melihat secara nyata, atau bahkan mengalami
secara langsung menjadi kaum marginal, berkunjunglah ke daerah 3T. Biasanya, di
sana anda akan menemukan masyarakat yang sederhana dalam aspek ekonomi, tidak
mempunyai peran penting dalam perpolitikan, tapi istimewa dalam ahlak dan
tindak-tanduknya. Pengalaman penulis dalam melakukan pengabdian, menemukan
siswa yang sekolah SD tidak bersepatu, kakak-beradik menggunakan satu buku
tulis untuk bergantian, dan bahkan mereka ada yang bersekolah sambil berjualan
es lilin.
Kondisi yang sungguh sangat miris. Setelah
mengamati kesenjangan yang juga terjadi di daerah lain seperti Banyuwangi,
Bondowoso dan Situbondo, membuka mata penulis bahwa ternyata Jember tidak
sendiri. Begitu lebar jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Bila
terus seperti ini, yang akan terjadi adalah masyarakat akan tekotak-kotak, si
miskin kesulitan memperoleh akses pendidikan, dan si kaya dengan mudahnya
memperoleh pendidikan. Alhasil yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap
stagnan. Sebab, pendidikan adalah tiket utama untuk memperoleh kesejahteraan di
negeri ini.
Apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi
ini? mereka masyarakat, kita juga masyarakat. Mereka manusia begitu pula kita.
Jika kita merasa keberatan dengan memberikan materi, mari kita memberikan ide.
Anda bisa bergabung dengan berbagai gerakan sosial yang memfokuskan
aktivitasnya pada pengabdian masyarakat. Bahkan anda bisa bergabung dengan
gerakan Indonesia Mengajar, SM3T, Kelas Inspirasi, dan lain sebagainya.
Barangkali, saat kebijakan pemerintah kurang bisa menjamah mereka lantaran
beberapa sebab, tampaknya hanya partisipasi dan gagasan saja yang bisa kita
suguhkan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Mengkritik pemerintah
boleh, menyuarakan pendapat pun bagus sekali. Tapi akan lebih baik, jika kita
turun tangan dan ikut ambil bagian demi suatu perubahan.


No comments:
Post a Comment